GURITA KAPITALISME MENJAJAH MEDIA TELEVISI
Kapitalisme merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi ditelinga kita. Suatu ideologi yang disimbolisasikan dengan menganggap pasar sebagai agama baru yang mengagung-agungkan pemilik modal. Ideologi ini menjadi sangat penting untuk dibahas ketika masyarakat saat ini sedang mengalami kebebasan yang berargumen bahwa pasar memiliki mekanisme untuk mengatur sendiri masalah-masalah social umat manusia bahkan pasar mempunyai kekuatan magis dan pelindung terbaik bagi konsumen, sedangkan media massa di Indonesia merupakan suatu alat yang menjadi mediator untuk mengeruk keuntungan bisnis yang sebesar-besarnya dengan menjadikan kita sebagai objek konsumennya.
Realita sekarang yang ada adalah terjadinya suatu hypercommersialisasi dari kemasan-kemasan acara yang disiarkan oleh TV. Bagaimana mereka melihat sebuah peristiwa untuk disajikan semenarik mungkin sehingga dapat menarik konsumen sebanyak-banyaknya sehingga menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Parahnya media ini hanya merefleksikan apa yang ada pada masyarakat tetapi mengabaikan pendidikan moral yang seharusnya ada dalam masyarakat misalnya saat ini dengan mudahnya kita menyaksikan tayangan yang sedikit berbau gossip, kekerasan dan porno baik itu pornotext (bahasa), pornografi (visualisasi), pornosuara (audio) maupun pornoaksi (tingkah laku). Semua ini disebut pornomedia yaitu konsep yang meliputi realitas porno yang diciptakan oleh media khususnya media massa (Bungin : 2005:126).
Teori Marxisme klasik menganggap bahwa kepemilikan media pada segelintir elit pengusaha telah menyebabkan patologi atau penyakit social (Junaedi, Fajar:2005). Disini dapat diartikan bahwa saran-siaran yang tidak mendidik dan disiarkan oleh media televisi dapat mempengaruhi peta kognitif dari masyarakat yang mengkonsumsinya, televisi menjadikan pola hidup masyarakat pelahan-lahan akan berubah sehingga menjadi semakin konsumtif dalam menikmati si kotak ajaib ini. Masyarakat lebih senang untuk menyaksikan televisi daripada mengerjakan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat. Siaran-siaran yang tidak mendidik ini bisa mendorong masyarakat untuk melakukan suatu budaya yang menyimpang dari kultur yang seharusnya dianutnya.
Bisnis media merupakan suatu system komunikasi yang lahir tentunya harus bias memenuhi kebutuhan pemilik modal, mereka memproduksi siaran yang sesuai dengan criteria yang dinginkan oleh si pemilik modal yang menguasai pertelevisian tersebut akibatnya pasar didorong oleh niat untuk mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Dari sinilah nilai-nilai social cultural masyarakat tidak bisa diangkat karena sudah terkontaminasi oleh nilai-nilai material semata. Implikasinya media tidak memperlihatkan perannya lagi sebagai control social dan cultural edukatif tetapi malah bisa mengikis secara perlahan nilai-nilai positif yang sudah lama kita anut dan jadikan pedoman contohnya kita hanya disuguhi oleh hal-hal yang berbau ponografi, kekerasan dan gosip saja.
Menurut Althusser ideology dibagi menjadi dua yaitu ISA (Ideological State Apparatus) dan RSA (Repressive State Apparatus). Menurut Marxian, aparat Negara Negara yang represif (State Apparatus) terdiri dari pemerintah, tentara polisi, birokrasi, pengadilan, penjara dan sebagainya. Sedangkan ISA menjalankan fungsinya secara ideologis, bagi Althusser tidak ada kelas dalam masyarakat yang dapat memegang kekuasaan tanpa melakukan hegemoni dan menjalankan ISA (Junaedi, Fajar:2005).media massa tergolong kepada ISA karena memberikan pengaruh ideologinya tanpa paksaan dan kekerasan fisik. Ideology inilah yang kemudian masuk dan berusaha menancapkan taringnya kedalam kita melalui siaran televise dan actor yang berada dibelakang layar pornografi menjadi dewa, gossip menjadi sarapan dan kekerasan menjadi mainan tak lain adalah sang pemilik modal. Jadi kalangan yang berada dibawah naungan pemilik modal dan bekerja untuk pemilik modal karena saat ini merekalah yang berkuasa diatas media merupakan orang yang secara tidak langsung ikut mempunyai andil dari kapitalisasi media tersebut. Dengan adanya konglomerasi yan dilakukan oleh pemilik modal tersebut maka secara tidak langsung siaran-siaran media televisi menjadi tersegmentasi dan terorientasi kearah hiburan dan bagaimana cara siarannya mempunyai rating yang tinggi sehingga menghasilkan keuntungan tanpa memperhatikan akibatnya bagi masyarakat yang hanya menerima mentah-mentah siaran dari media televise tersebut padahal secara tidak langsung televisi tersebut juga menyebarkan ideology dan gagasan yang tidak sesuai dengan kultur dan social masyarakat kita. Kita hanya dicekoki dengan siaran yang menurut pemilik modal akan menguntungkan mereka.
Durkheim berasumsi bahwa perilaku manusia ditakdirkan untuk dikendalikan oleh kekuatan social yang dipaksakan dalam modernitas (Durkheim:1950 dalam Agger:2003:40). Merujuk dari kata Durkheim tersebut serta dikaitkan dengan realita sekarang maka kata-kata tersebut menjadi layak untuk dikaji. Bagaimana konstruksi realitas yang ada pada masyarakat kita tidak lepas dari media dan merupakan hasil perpaduan konglomerasi antar pemilik modal untuk menguasai media sehingga mau tidak mau secara tidak langsung kita didoktrin oleh siaran yang ada pada media TV. Sungguh ironis apabila kita tidak mempunyai sisi kritis dalam melihat fenomena media saat ini maka kita kan menelan mentah-mentah ideology yang tertanam dan diproduksi oleh pendukung kapitalis ini. Memang benar bahwa perusahaan media itu hidup dari hasilnya dari keuntungan yang diperoleh akan tetapi apabila kita bias mengambil sedikit sisi positifnya bahwa mungkin para pemilik media dalam memproduksi siaran-siaran tersebut bisa sedikit memperhatikan kondisi social kutural dari masyarakat Indonesia karena selain kita memiliki suatu hukum positif kita juga mempunyai etika yang mungkin bisa kita jadikan pedoman dalam memproduksi siaran media yang cultural-edukatif.
Oleh karena itu atas dasar anggapan bahwa media telah memiliki kebudayaanya yaitu mitos komersialisasi maka mungkin kita bisa menghidupkan modal social terbesar kita yaitu masyarakat untuk menelaah dan dapat aktif dalam mengantisipasi kemungkinan dari kapitalisasi media yang berdampak buruk bagi kita sehingga kita bisa menjadi masyarakat yang melek media sekaligus juga bersikap kritis terhadap siaran media.
Tulisan Kecilku sewaktu Menuntut Ilmu..........dulu cita-citaku ingin menjadi jurnalis ah.....sudahlah yang lalu biarlah berlalu......berusaha untuk selalu jalani hidup apa adanya dan ikhlas....mencoba untuk eksis kembali melalui blog ini....

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda